Lompat ke konten
Home » Menyakitkan Tapi Tak Seburuk Yang Kupikirkan Oleh Lee You Jeong

Menyakitkan Tapi Tak Seburuk Yang Kupikirkan Oleh Lee You Jeong

Menyakitkan, Tapi Tak Seburuk Yang Kupikirkan

Judul buku terjemahan dari Korea selalu agak panjang, tapi justru itu yang membuat saya tertarik untuk membeli dan membacanya. Awalnya lihat cover-nya dan ada kata-kata “fibroid rahim” di sana yang membuat saya tertarik. Hmm kok kayak senasib ya? Gitu sih saya mikirnya. Akhirnya terbelilah buku ini.

Wajar ya kecenderungan manusia untuk memilih yang senasib sepenanggungan. Dan akhirnya here we go, karena ada tantangan membaca dari Komunitas One Day One Post, dan tema pekan terakhir kali ini adalah tentang buku yang “aku banget” alias genre favorit masing-masing peserta, maka saya memilih buku ini. Buku non fiksi genre self improvement yang beberapa tahun terakhir menjadi buku favorit saya.

Menyakitkan, Tapi Tak Seburuk Yang Kupikirkan

Entah kenapa setelah punya anak saya lebih suka membaca buku-buku self improvement karena mungkin sebagai Ibu baru, saya merasa ilmu yang dipelajari di pendidikan formal maupun non formal selama ini masih belum cukup.

Selalu ada saja hal baru yang membuat saya harus belajar lagi dan lagi. Bersyukurnya ternyata saya menikmati itu. Melalui buku non fiksi saya selalu mendapatkan hal baru yang bisa saya bagikan, baik pada suami, anak, dan juga di tongkrongan.

Sinopsis Buku “Menyakitkan, Tapi Tak Seburuk Yang Kupikirkan”

“Usiaku dua puluh delapan tahun, suatu hari aku mengetahui bahwa diriku mengidap fibroid rahim. Aku tidak menyangka bahwa kesedihan yang datang secara tiba-tiba kepadaku akan menjadi hal yang indah dalam hidupku.”

Lee You Jeong, sang penulis membagikan pengalamannya ketika divonis oleh dokter mengidap fibroid rahim, persis beberapa bulan sebelum pernikahannya. Sebagai perempuan muda yang akan menikah, tentu saja vonis itu seperti petir yang menyala di siang hari. Bayangan-bayangan buruk menghantui hampir di setiap waktu.

Apalagi saat pertama kali Lee You Jeong menerima fakta tersebut ia diberi tahu oleh dokter dengan komunikasinya yang kurang baik. Sehingga vonis tersebut serasa vonis mati yang mutlak dan tidak bisa memberikan harapan baik baginya.

Beruntungnya calon suami dari Lee You Jeong yang merupakan seorang Doktor sekaligus peneliti di bidang kesehatan, memberikan harapan dan menenangkan Lee You Jeong. Karena calon suaminya itulah, You Jeong akhirnya mau untuk mencari tahu tentang apa itu fibroid dari berbagai sumber ilmiah, mencari alternatif dokter dengan komunikasi yang lebih bagus, serta selalu berprasangka positif bahwa setiap penyakit ada obatnya. Seperti kita seorang Muslim yang meyakini bahwa Allah menciptakan penyakit pasti dengan obatnya. Hanya saja keterbatasan manusia yang mungkin belum bisa menemukan itu semua.

Setelah bertemu dengan dokter yang tepat, akhirnya You Jeong mengubah pola hidupnya, menjadi gaya hidup yang lebih sehat dan lebih memperhatikan asupan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya sesuai dengan anjuran dokter. Karena ternyata gaya hidup sehat juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan penyakit dalam tubuh kita.

Menyakitkan, Tapi Tak Seburuk Yang Kupikirkan

Lee You Jeong akhirnya tidak lagi berpikir bahwa hidupnya sebagai seorang perempuan telah hancur. Penyakit fibroid rahim yang dideritanya justru membuatnya mempertanyakan banyak hal.

Berkat fibroid, ia tersadar bahwa nilai sebuah kehidupan tidak bisa dinilai hanya dari hal-hal yang konkret, dan melalui bukunya ini ia ingin membagikan pandangan lain tentang kehidupan perempuan yang sehat dan informasi fibroid rahim.

Belajar dari Lee You Jeong

Membaca buku ini mengingatkan pada saya bahwa betapa kita harus mensyukuri nikmat yang Allah berikan pada kita semua berupa kesehatan. Ketika kita sakit, menikmati waktu dengan melihat pemandangan dedaunan dan berbagi makan malam sederhana dengan orang yang kita cintai merupakan hal yang sangat berharga.

Jika kita menghargai potongan-potongan kecil dari kehidupan kita sehari-hari, maka hal itu akan menjadi sebuah kebahagiaan. Dan kita akan menyadari bahwa hari ini adalah hari untuk bersyukur karena kita masih bisa tertawa.

Sebenarnya saya juga sedang menuliskan pengalaman ketika mengidap myoma uteri, mirip dengan yang dialami oleh Lee You Jeong. Jadi buku ini menjadi referensi saya dalam proses penulisannya. Termasuk bagaimana saya harus menyampaikan pengalaman dalam bentuk tulisan tanpa harus takut untuk dihakimi.

Buku ini cocok untuk teman-teman yang sedang membutuhkan dukungan emosional, atau bahkan ketika diri kita sedang baik-baik saja, Lee You Jeong mengajak kita untuk bersyukur dan menikmati hidup. Karena hidup ini terlalu singkat untuk sekadar diratapi dan disesali. Nikmati setiap momen yang berharga, sekecil apapun itu.

Menyakitkan, Tapi Tak Seburuk Yang Kupikirkan

Judul Buku : Menyakitkan, Tapi Tak Seburuk Yang Kupikirkan 

Penulis : Lee You Jeong

Penerjemah : Indah Islamiyah

Diterbitkan oleh Shira Media, 272 halaman, cetakan pertama tahun 2021.

#ReadingChallengeODOP2026 #TugasTantanganRCO

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *