Home » Beri Aku Cerita Yang Tak Biasa, Ajakan Terbang Bersama Elang

Beri Aku Cerita Yang Tak Biasa, Ajakan Terbang Bersama Elang

peluncuran cerpen budaya ibuibudoyannulis

Satu-satunya burung yang berani mematuk seekor Elang adalah burung Gagak. Burung ini bisa duduk di punggung Elang dan mematuk lehernya.

Namun, tahukah kita? Elang tidak pernah merespon, juga tak mau bertarung dengan burung gagak. Ternyata, Elang tidak mau menghabiskan waktu dan energi hanya untuk menanggapi burung gagak.

Cukup bagi Elang untuk membuka sayapnya dan mulai terbang lebih tinggi lagi di langit.

Semakin tinggi penerbangan, maka semakin sulit bagi gagak untuk bernafas. Hingga akhirnya gagak jatuh karena kekurangan oksigen…

Cerita Elang dan burung Gagak di atas pertama kali saya jumpai di berbagai media sosial ketika ramainya perbincangan seorang pesohor yang bertengkar dengan saudaranya sendiri. Entah siapa penulisnya, namun saya berterima kasih karena kisah tersebut mampu memantik semangat saya untuk bisa bersikap seperti Elang.

kisah elang dan gagak

Fokus untuk terus berkarya dan berprestasi tanpa menghiraukan gangguan Gagak. Fokus pada kemampuan sendiri, fokus untuk terus memperbaiki diri, menambah dan upgrade pengetahuan, hingga pada saatnya burung-burung Gagak yang menghampiri akan jatuh dengan sendirinya.

Lalu malam kemarin, 7 Oktober 2022 saya bertemu dengan elang-elang dengan karyanya yang memukau. Melihat book trailer dari buku yang sudah mereka tulis membuat saya penasaran. Bersama dengan komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis, saya berusaha untuk mengosongkan gelas agar mendapatkan banyak manfaat malam itu.

Ini cerita saya malam itu, malam bersama Elang Nuswantara dan Ibu-Ibu Doyan Nulis.

Malam Bersama Elang Nuswantara dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN)

Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) merupakan komunitas penulis perempuan yang terdiri dari banyak genre juga berbagai profesi kepenulisan. Mulai dari blogger, novelis, hingga cerpenis. IIDN memiliki visi memajukan perempuan Indonesia melalui dunia menulis. Sebuah visi yang satu frekuensi dengan saya.

Sebagai anak baru di IIDN, saya sudah merasakan betapa banyak manfaat yang saya dapat setelah bergabung dengan komunitas ini. Mulai dari kelas menulis, networking, kelas blogging, hingga acara singkat penuh manfaat seperti malam kemarin, malam bersama Mbak Kirana Kejora, Mbak Widya, dan juga beberapa penulis perempuan lain.

Apalagi teman-teman yang sudah lama bergabung dengan IIDN, pastinya semakin banyak juga ilmu yang sudah didapat yaa. Sehingga kadang saya berpikir, kenapa ngga daridulu yaa saya bergabung bersama IIDN? Atau, coba saya kenal lebih awal sama IIDN, dan andai-andai lainnya.

Tapi tak mengapa, tak ada kata terlambat untuk belajar bukan?

Nah, bagi teman-teman yang belum mengetahui apa saja kegiatan IIDN, diantaranya sebagai berikut:

  • Sharing kepenulisan
  • Kelas-kelas menulis
  • Partnership dengan berbagai lembaga (kementerian, brand komersial, NGO) dalam bentuk penulisan bukuevent blogger, kompetisi blog, dan lain sebagainya.

Nah, kelas menulis fiksi yang diadakan beberapa waktu lalu akhirnya menghasilkan satu karya yang membuat saya penasaran dan ingin belajar menulis fiksi juga. Salah satu book trailer-nya kemarin juga diperlihatkan pada kami, peserta webinar. Teman-teman bisa melihatnya juga di sini ya:

 

Karya yang diluncurkan beberapa waktu lalu yakni antologi bersama bertema kebudayaan yang berjudul Beri Aku Cerita yang Tak Biasa.

Beri Aku Cerita yang Tak Biasa

Beri Aku Cerita yang Tak Biasa adalah cara para penulis dalam buku ini untuk mensyukuri, menjaga, serta turut merayakan warisan budaya luhur nusantara.

Mbak Widya, ketua umum Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) malam itu mengatakan bahwa selama 4 tahun berturut-turut, mulai tahun 2018 IIDN sudah menulis soal tema-tema budaya meskipun diawali dengan bentuk antologi-antologi bergenre nonfiksi.

Baru saat ini IIDN membuat cerpen, sebuah karya fiksi yang mungkin dinilai oleh beberapa orang yang sudah terbiasa menulis nonfiksi sebagai satu hal yang sulit. IIDN melakukan sesuatu yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kalau ditanya sebabnya kenapa? Sebenarnya ada beberapa sebab mengapa IIDN kemudian terjun ke genre fiksi.

Alasan yang pertama adalah karena panggilan. IIDN tersentuh untuk turut menulis tema budaya dalam kemasan yang berbeda.

Yang kedua tema budaya bagi banyak orang mungkin bukan tema yang sexy atau tema yang menarik. Namun bagi penulis-penulisnya, budaya adalah tema yang menarik. Tema yang belum banyak orang mau menulis soal itu. Justru di sinilah menariknya.

Seperti yang telah kita ketahui, bagi sebagian orang tema budaya mungkin agak membosankan untuk dijadikan sebuah cerita. Padahal budaya membawa pesan penting bagi kita. Inilah alasan ketiga mengapa IIDN mengambil tema budaya dalam kumpulan cerpen Beri Aku Cerita Yang Tak Biasa.

Dalam melestarikan warisan budaya, harapannya cerpen akan menjadi karya yang lebih mudah dicerna dan dinikmati oleh pembaca. Sehingga pembaca nanti akan merasakan dan merefleksikan dalam kehidupannya. Serta agar budaya yang ada di sekitar kita akan terus terjaga.

Tulisan Fiksi Ketua IIDN dalam Cerpen Taneyan Lanjhang Menuju Wageningen

Membaca judul cerpen dari karya Mbak Widya saya jadi teringat dengan novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, Entrok karya Okky Madasari, dan Tanah Surga Merah karya Arafat Nur. Kisah fiksi yang juga menggarap “kearifan lokal” sebagai salah satu sorotannya. Sudah berapa lama ya saya tidak membaca buku fiksi yang bisa membawa imajinasi saya terbang?

Oleh karena itu saya makin penasaran ketika mendengar salah satu judul cerpen dalam buku ini, “Dari Taneyan Lanjhang Menuju Wageningen”. Sebuah cerpen karya Mbak Widyanti Yuliandari, perempuan asal Situbondo satu ini membahas tentang Taneyang Lanjhang, dalam bahasa Madura dibaca Taneyan Lanceng.

Taneyan Lanjhang berasal dari bahasa Madura dan terdiri dua kata, yaitu taneyan yang berarti halaman, dan lanjhang yang artinya panjang; jadi taneyan lanjhang merujuk pada halaman rumah yang panjang. Susunan rumah-rumah ini terdiri atas keluarga-keluarga yang mengikatnya. Letak rumah berjejar dengan urutan timur ke barat, sehingga kepemilikan halamannya dipunyai bersama. Secara aturan tradisional, uniknya rumah-rumah ini hanya akan menghadap ke arah utara dan selatan. Satu taneyan lanjhang dihuni keluarga batih yang terdiri dari orang tua, anak, cucu, cicit dan seterusnya.

Taneyan Lanjhang berkisah tentang keinginan seorang perempuan untuk belajar hingga sampai ke Wageningen, salah satu nama kota di Provinsi Gelderland, Belanda. Tentu saja tidak hanya berkisah tentang perjalanan hidupnya untuk meraih cita-cita, namun ada juga kisah romantis yang diselipkan oleh Mbak Widya di dalamnya.

Mbak Widya sebenarnya bukan penulis fiksi, sama seperti saya hehe.. namun kepercayaan diri Mbak Widya dan bagaimana beliau mengambil keputusan untuk turut andil dalam penulisan buku ini jadi cambuk tersendiri bagi saya. Bahwa tidak seharusnya kita melabeli diri sendiri dengan penulis nonfiksi atau penulis fiksi. Bukankah itu artinya kita membatasi diri kita? Hehe.. 

Kalau tidak dicoba, bagaimana kita bisa tahu kan? Karena baik fiksi maupun nonfiksi sebenarnya sama-sama sulitnya kalau tidak berlatih. Sama-sama membutuhkan effort yang tidak sedikit. Sama-sama membutuhkan riset jika ingin tulisannya hidup. Sehingga tidak benar jika dikatakan menulis nonfiksi lebih sulit ketimbang fiksi, dan sebaliknya.

Ada banyak pertanyaan yang ditujukan pada Mbak Widya ketika menulis cerpen ini. Salah satunya pertanyaan: menulis nonfiksi lalu ke fiksi, apakah sulit? Tentu saja sulit, namun bukan berarti tidak mungkin. Oleh karena itu Mbak Widya mengajak kami semua malam itu untuk membongkar mitos penulisan fiksi. Apa saja itu?

Mitos Penulisan Fiksi

Diantara mitos penulisan fiksi yang selama ini kita dengar yakni:

  • Harus pintar mengkhayal. Mitos ini bisa dipatahkan, karena orang yang menulis fiksi justru harus pintar melakukan riset dengan memanfaatkan berbagai sumber.
  • Hanya dapat ditulis oleh orang yang berbakat. Mbak Widya berpesan bahwa dirinya pun bukanlah penulis fiksi, namun buktinya beliau berhasil menyelesaikan karya fiksi dalam buku Beri Aku Cerita yang Tak Biasa ini.
  • Jenis tulisan yang sangat gampang dibuat. Ini juga sebenarnya tidak tepat, karena fiksi pun juga harus memperhitungkan banyak hal sebagaimana tulisan nonfiksi.

Tips dari Mbak Widya : Menulis Fiksi Untuk Pemula

Bukan hal yang mustahil bagi seorang penulis nonfiksi bisa menulis fiksi kok. Bagi teman-teman yang ingin memulai untuk belajar menulis fiksi, mungkin tips berikut bisa diaplikasikan:

  • Banyak membaca karya fiksi dari berbagai penulis yang baik
  • Lepaskan ekspektasi
  • Gunakan seeting yang mudah dibayangkan
  • Gunakan bantuan video, foto, rekaman suara, dan lain sebagainya
  • Jangan lupa meminta bantuan pada Sang Maha

Untuk pemula, karya yang selesai itu jauh lebih baik daripada karya yang sempurna. Bersedialah untuk tidak sempurna, dan bersedialah untuk terus belajar. Jadi yaa ngga apa-apa jika karya di awal memang tidak sesuai ekspektasi orang lain.

beri aku cinta yang tak biasa

Menerbangkan Adikarya Nuswantara dalam Bingkai Cerita yang Tak Biasa

Setelah sesi bersama Mbak Widya, selanjutnya adalah sesi sharing bersama Buk’e Kirana Kejora yang sudah malang melintang karyanya di dunia literasi. Buku-bukunya banyak yang terjual habis dan masuk di jajaran buku best seller di Indonesia.

Dua karya beliau juga pernah diangkat ke layar lebar dengan dibintangi oleh pemain-pemain senior dengan akting yang luar biasa seperti Fedi Nuril, Vino G Bastian, dan lainnya. Duh keren banget!

Bersama Buk’e Kirana Kejora malam itu saya disadarkan, siapa lagi yang akan mengangkat cerita-cerita tentang budaya di sekitar kita? Siapa lagi yang akan meneruskan kebaikan dalam kearifan lokal yang kita miliki? Siapa lagi kalau bukan kita?

Meskipun bukan “dilabeli” sebagai penulis fiksi, Mbak Kirana Kejora mengatakan bahwa sebenarnya perbedaan fiksi dan nonfiksi itu tipis sekali. Hanya ada pada: kisah ini nyata atau tidak. Oleh karena itu sebenarnya semua orang bisa kok menulis fiksi.

Gelar saya tuh Insinyur, dulu saya jadi angkatan terakhir yang mendapat gelar itu sebelum sekarang ada Sarjana Teknik dan semacamnya. Begitu pun Mbak Widya yang lulusan teknik. Jadi sebenarnya apapun latar belakangnya, mau lulusan teknik bahkan dokter sekalipun, atau bahkan lulusan SMP dan SD semua bisa menulis fiksi. Yang terpenting kemauan untuk belajar.

Begitulah Mbak Kirana Kejora berpesan pada peserta webinar malam itu. Hingga saya akhirnya punya semangat untuk mencoba menulis genre fiksi sebagaimana yang pernah saya lakukan dulu saat duduk di bangku SMA.

Perlu diketahui juga bahwa kearifan lokal itu bukan hanya budaya, tapi juga lingkungan, kuliner, hingga travelling. Jadi tidak sesempit yang selama ini kita pikirkan.

Tugas seorang cerpenis adalah mempercantik tulisan itu menjadi tulisan yang berbicara. Huruf-huruf itu menjadi gambar yang hidup. Ada beberapa unsur dalam cerpen yang sebaiknya diperhatikan oleh penulis fiksi pemula, diantaranya:

  • Possible : mungkin terjadi atau masuk akal. Kenapa masuk akal? Karena penulis punya data.
  • Suspend : ada unsur yang menggetarkan
  • Suprise : ada yang mengejutkan

Ilmu sekaligus pesan penutup dari Mbak Kirana Kejora di atas sudah membuat saya terpantik untuk segera menulis dan menulis. Bagaimana dengan teman-teman nih?

peluncuran cerpen budaya ibuibudoyannulis

Acara Talkshow Bersama Mbak Key dan Para Wakil Elang Nuswantara – source: ibuibudoyannulis.com

Oh iya, perlu diketahui bahwa keriuhan yang besar di acara penerbangan Adikarya Nuswantara Beri Aku Cerita yang Tak Biasa ini ditandai dengan peluncurannya di Perpustakaan Nasional. Lalu diliput oleh berbagai macam media tanpa dibayar, bahkan dihadiri oleh banyak sastrawan dan penulis-penulis lain.

Bukankah hal ini sudah cukup menjadi bukti bahwa antologi bersama yang satu ini patut untuk kita miliki? Masa iya kamu ngga penasaran untuk meminang “Beri Aku Cerita yang Tak Biasa” ini? Untuk pemesanan, teman-teman bisa langsung klik link ini yuk!

Semoga artikel ini bermanfaat, ya!

37 tanggapan pada “Beri Aku Cerita Yang Tak Biasa, Ajakan Terbang Bersama Elang”

  1. Rasanya saya baru ini membaca kisa Elang dan Gagak, Mbak. Dan cerita itu salah satunya tertuju pada seorang seleb yang terus mengkritik seleb yang lebih senior dan berprestasi. Tapi memang, di dalam dunia nyata dan kehidupan keseharian, banyak terjadi seperti itu. jadi terus fokus berkarya.

    Dan memang bagus sekali Ibu-Ibu Doyan menulis ini. Bisa terus berbagi semangat menulis, dan akhirnya semakin banyak orang yang menulis.

  2. temanya menarik ya mbak, Beri Aku Cerita Yang Tak Biasa sudah bisa mewakilkan cerita yang akan disuguhkan pastinya cerita yang menarik dan lain dari yang lain.

  3. Dunia kepenulisan itu memang luar biasa sih setiap orang bisa dapat panggung yang penting ingin berusaha dan pastinya terus belajar. Salut buat para penghuni IIDN yang bisa menelurkan karya ini.

  4. Setuju kak, karena karya yang selesai itu jauh lebih baik, dari pada menginginkan sempurna tapi gak kelar-kelar. Nah ini jadi ketabok deh daku, karena ada karya tulis yang belum kelar, huhu

  5. Mbak Kirana Kejora ini salah satu penulis yang aktif banget di dunia kepenulisan buku, novel, dan skenario ya. Salut. Eh iya, cerita tentang elang itu aku suka banget dan dikombinasiin sama bahasan di Filosofi Teras, masuk banget soalnya

  6. seruuuu! jujur aku tuh minder banget sama para mom blogger yang produktif banget. keren banget, di luar aktivitas ini itu masih konsisten untuk berkarya lewat tulisan kayak gini.

  7. Selamat ya mba untuk buku terbarunya. Saya udah lama gak baca dan nulis nonfiksi. Dulu sejak SD malah saya sukanya baca nonfiksi cuma setelah nikah emang berkurang.

  8. Waah jadi penasaran sama buku antologi IIDN ini. Cerita fiksi yang mengangkat budaya lokal. Aku dah baca Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari dan Entrok Okky Madasari. Sepertinya buku IIDN ini menarik juga. Apalagi judulnya Beri Aku Cerita yang Tak Biasa.

  9. Salut sekali dengan para penulis di Mbak Widya dan tim di Elang Nuswantara dan Ibu-Ibu Doyan Nulis. Karyanya yang sangat mudah diterima karena memberikan kekayaan dunia fiksi yang positif.
    Aku seneng banget baca fiksi, tapi selalu yakin kalau aku payah saat menulis fiksi. Hehhee, karena gak dilatih dan paling hobi meng-halu aja sih..

  10. Kemarin aslinya pengin ikutan acara ini, tapi sayang bentrokan sama jadwal kegiatan lain. Hiks. Semangat terus menulisnya, Kak. 🥳

  11. IIDN adalah rumah pertamaku untuk urusan menulis meskipun dalam perkembangan selanjutnya aku lebih fokus menulis artikel non fiksi, kadang pingin nyobain nulis fiksi tapi selalu kedistrak urusan pekerjaan soalnya aku sekarang menjadi penulis freelance. Salut buat ibu-ibu yang sudah bergabung di IIDN, diantara kesibukan masih sempat mempelajari hal-hal yang baru, seperti dunia kepenulisan ini.

    1. Wah makin banyak platform atau komunitas untuk belajar bikin fiksi yang dibukukan. Ini sungguh menarik dan membuka banyak peluang. Omong-omong bikin fiksi memang tidak mudah, saya juga ikut belajar dan beberapa kali banyak dapat catatan. Paragraf pembuka dan bahasa yang mengalir harus selalu diasah.

      Terima kasih Esy atas sharing-nya. Salam kenal dan salam hangat.

  12. Haiisshh iyaa yaa aku baru ngeh kalau hanya gagak yang bisa matuk elang… pdhl gagak badannya juga lebih kecil.. tapi Elang tahu, meski dia bisa mengalahkannya, Elang nggak mau ambil pusing…

    Harus belajar dari Elang untuk bisa mandang lurus ke depan fokus pada tujuan.

  13. Mb Jihan ikut nulis di buku ini mb? IIDN mmg keren program²nya ya. Sempat pingin ikutan penulisan cerita fiksi ini, tp blm pede krn gak jago menghayal. Padahal itu mitos yaa.. Haha.

  14. Jadi penasaran isi buku ini, sering sih liat postingan tentang buku ini di medsos, tapi baru kali ini saya baca review bukunya secara keseluruhan termasuk awal pembuatannya.
    Yang pasti cerita-cerita di buku ini luar biasa semua ya

  15. Belajar nulis buku non fiksi sama fiksi memang butuh proses pastinya, dan selamat buat mba Widya yang berhasil menelurkan karya fiksi terbarunya Beri Aku Cerita yang Tak Biasa. Saya jadi kepo pengen juga baca bukunya.

  16. Keren banget IIDN bisa ngajak teman2 perempuan untuk berdaya dan berkarya. Ga ada istilah terlambat buat belajar nulis ya, karena fiksi atau nonfiksi yang penting latihan terus. Banyak baca juga berpengaruh pada hasil tulisan. Aku penasaran kisah di cerpen mba Widya. Moga kapan2 bisa baca bukunya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *