Duh kok lama-lama aku ngga bisa betah baca buku tebel ya?
Duh kok aku jadi males banget baca buku ya? Padahal dulu sukaaa banget!
Pernahkah di antara teman-teman yang sedang mengalami hal seperti itu? Saya pernah. Juga beberapa kerabat dan saudara terdekat ternyata mengeluhkan hal yang sama.
Baca buku jadi momen yang jarang dijalani, tidak seperti dulu. Baca buku jadi lebih berat dibanding sebelumnya.
Saya jadi ingat dengan salah satu kajian yang saat itu menyebutkan bahwa dampak penggunaan media sosial yang berlebihan bisa menyebabkan brain rot dan juga pop corn brain.
Apa itu brain rot dan pop corn brain? Kalau kemarin kita banyak mendengar tentang brain rot, yaitu istilah slang dari internet untuk penurunan fungsi kognitif, fokus, dan kemampuan berpikir kritis akibat konsumsi berlebihan konten daring berkualitas rendah, dangkal, atau berulang-ulang. Maka sekarang kita juga perlu mengenal pop corn brain juga.
Apa Itu Pop Corn Brain?
Melansir dari gooddoctor.co.id, Peneliti David Ley yang juga seorang profesor di sekolah informasi pada Universitas Washington, Amerika Serikat, menjelaskan, otak popcorn atau pop corn brain adalah kondisi saat pikiran terpaku pada kegiatan multitasking yang melibatkan alat elektronik, misalnya gawai.
Kondisi ini kemudian membuat seseorang menilai kehidupan offline-nya tak lagi menarik karena terkesan berjalan lebih lambat. Termasuk soal baca buku, yang memang butuh waktu lama untuk mendapatkan intisarinya dan juga cerita utuhnya. Tidak seperti bermain internet yang dalam sekejap kita sudah mendapatkan “rangkuman” dan jawaban atas apa yang kita cari, kita lihat dan kita dengar.
Mengapa dikaitkan dengan popcorn? Kita tahu bagaimana pop corn dimasak kan? Ya, layaknya jagung yang tengah dimasak menjadi popcorn, si jagung akan meletup-letup. Ini yang dianalogikan dimana otak seolah “meletup-letup” akibat terpapar aktivitas dari perangkat digital.
Kondisi ini menyebabkan perhatian dan fokus seseorang berpindah dengan cepat dari satu hal ke hal lain, yang dipicu oleh multi-tasking dan paparan berlebihan gadget.
Penyebab dan Gejala Pop Corn Brain
Karena saya sudah mengalaminya, maka saya juga membenarkan bahwa pop corn brain ini disebabkan oleh beberapa hal seperti di bawah ini :
- Bermain media sosial secara terus-menerus
- Melakukan banyak tugas sekaligus sehingga otak menjadi lelah
- Menonton film atau serial secara maraton tanpa jeda. Hayoo yang suka maraton drakor, angkat tangan!
- Adanya notifikasi pada smartphone terus-menerus, sehingga membuat ingin terus mengeceknya. Mau ngga mau kita pasti terdistraksi dengan notifikasi tersebut.
Tahu darimana kalau kita mengalami Pop Corn Brain? Nah, kalau teman-teman mengalami hal-hal seperti di bawah ini, setidaknya tiga hingga empat poin, fix pop corn brain ini lama-lama akan merusak otak kita lho. Simak ya gejalanya:
- Berkurangnya kemampuan berkonsentrasi
- Berkurangnya kemampuan kognitif
- Stres dan kecemasan meningkat
- Sering lupa
- Mengalami gangguan tidur.
Kalau teman-teman sudah mengalami hal-hal serupa di atas, segera waspada dan segera lakukan antisipasinya.
Cara Mengatasi Popcorn Brain
![]()
- Mengurangi waktu menatap layar dengan membaca buku
- Mengerjakan soal matematika
- Mengerjakan teka-teki silang
- Mengerjakan kerajinan tangan atau hobi lainnya
- Melatih kesadaran dan selingi dengan baca Al-Quran atau dzikir (untuk yang beragama Muslim)
- Melakukan aktivitas fisik secara teratur (olahraga)
- Memperbaiki kualitas tidur
- Bersosialisasi secara offline
- Mencari terapi atau konseling profesional jika diperlukan.
Hal-hal tersebut di atas dinilai oleh para ahli mampu mengembalikan fokus otak kita lho.
Ketika saya merasa sudah sangat sulit untuk konsentrasi, biasanya saya akan jauhkan gawai, lalu segera mengambil buku untuk membacanya.
Membaca Buku Untuk Mengatasi Pop Corn Brain, Yuk Buat Target Baca Buku Tahun Ini!
Jika masih sulit untuk memulai membaca buku, teman-teman bisa mencobanya dengan membaca komik. Tidak perlu juga buku-buku nonfiksi yang berat kok, novel juga bisa menjadi pilihan yang oke. Intinya, mulailah dari buku yang teman-teman sukai.
Dalam tahun ini, teman-teman bisa membuat target terlebih dahulu ada berapa buku yang ingin diselesaikan.
![]()
Kalau saya, tahun ini ingin menyelesaikan 20 buku. Target yang mungkin cukup berat karena itu berarti dalam satu bulan saya harus menyelesaikan kurang lebih 2 buku. Target membaca menjadi salah satu motivasi yang bisa membantu kita untuk bisa kembali fokus dan hadir untuk diri sendiri lho.
Jika target membaca di bulan kedua atau ketiga tahun 2026 ini masih belum terlampaui, segera lakukan langkah-langkah yang sudah saya lakukan berikut agar lebih termotivasi :
- Cari “teman membaca”. Bisa dari komunitas, atau membuat challenge bersama dengan teman yang juga suka membaca agar lebih bersemangat menyelesaikan buku-buku yang akan kita baca tahun ini.
- Mulai dengan membaca buku-buku yang disukai.
- Buat alarm untuk “waktu membaca buku” setiap harinya, luangkan 30-60 menit setiap hari setidaknya untuk membaca.
Untuk memulai tahun 2026 dengan kebiasaan membaca buku, yuk kita bikin wishlist judul-judul buku yang ingin kita selesaikan tahun ini!
Beberapa judul buku yang ingin saya selesaikan tahun ini di antaranya adalah Merawat Luka Batin, Pulih dari Trauma yang ditulis oleh dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ, lalu Belajar Marketing Belajar Hidup karya Henry Manampiring, Divine Speech karya Nouman Ali Khan (sebuah buku yang dihadiahi oleh sahabat saya), Why Men Want Sex, Women Need Love karya Alan dan Barbara Pease, Convenience Store Woman karya Sayaka Murata, dan beberapa novel lain yang ringan dan membangkitkan kembali imajinasi dari kepala saya yang sempat dorman hihi.
Bagaimana dengan teman-teman? Buku apa nih kira-kira yang ingin teman-teman baca tahun ini? Ada yang samaan ngga?