Home » Baitul Maqdis For Dummies, Membangun Kembali Koneksi Yang Terputus

Baitul Maqdis For Dummies, Membangun Kembali Koneksi Yang Terputus

baitul maqdis for dummies

Angkat topi untuk ustadz Felix Siauw dan Tim Tahrir Al Aqsha Indonesia (Tim Pembebasan Al Aqsha Indonesia)!

Saya cuma bisa bilang ini sungguh karya yang luar biasa hebat dan mendebarkan. Sampai bingung mau menuliskan reviewnya mulai dari mana. Hanya kerinduan dan juga harapan yang membekas dalam hati saya setelah selesai membacanya.

Baca buku ini setelah buka puasa di hari ke-16 bulan Sya’ban, lalu saya selesaikan Baitul Maqdis For Dummies ini di jam 21.24. Lalu segera meraih laptop untuk menuliskan pengalaman membaca ini agar tidak terlupa atau hilang karena terbawa tidur. Sesayang itu 🙁

Jadi akan saya mulai dari salah satu kisah yang dituliskan dalam buku ini, yaitu tentang jejak kaki para Nabi dan Rasul yang jumlahnya sekitar 124.000 di Baitul Maqdis saat peristiwa Isra Miraj. Baitul Maqdis tempat di mana Rasulullah transit menuju Sidratal Muntaha, menjadi imam salat para Nabi dan Rasul. Sehingga mungkin ketika kaki kita ada di Baitul Maqdis, bisa jadi berpapasan dengan langkah kaki para Nabi dan Rasul.

Fakta itu juga yang membuat saya ingin kesana, menyelami sejarah, merasakan bagaimana saat itu para Nabi dan Rasul beribadah di sana, juga.

Masjidil Aqsha, masjid yang menghubungkan antara bumi dan pintu langit yang saat itu dibuka untuk Rasulullah. Menunjukkan bahwa sepenting itu Masjidil Aqsha bagi kita umat Muslim. Koneksi antara Rasulullah dan Masjidil Aqsha dan juga kerinduan para sahabat pada Masjidil Aqsha sama besarnya dengan kerinduan kita pada Baitullah.

Baitul Maqdis for Dummies

Koneksi Yang Terputus dengan Negeri Syam

Masjidil Aqsha dan juga wilayah Baitul Maqdis merupakan wilayah yang masuk dalam Negeri Syam, negeri yang diberkahi dan di dalamnya banyak Nabi dan Rasul yang berjuang menegakkan agama Allah. Juga negeri yang menjadi meeting point kita sebagai generasi terakhir sebelum musnahnya dunia dan peradaban manusia, hingga berkumpulnya kita untuk menantikan pengadilan akhirat.

Namun dalam buku ini akan kita temui dan terlambat kita sadari kenapa koneksi umat Muslim terputus dengan Negeri ini.

Satu hal yang saya garis bawahi adalah salah satu ucapan Golda Meir, Perdana Menteri Israel :

Ketika kami membakar Masjid Al Aqsha, sepanjang malam aku tidak bisa tidur. Aku takut bangsa Arab akan berbondong-bondong memasuki Israel dari segala penjuru. Tapi ketika esok hari tiba, aku baru tahu bahwa kami berbuat apapun yang kami inginkan. Karena sebenarnya, kami sedang berhadapan dengan Umat Islam yang tidur.

Betapa sedihnya saya membaca ini, bukti kuat bahwa Baitul Maqdis tidak hadir lagi di hati kaum Muslimin. 🙁

Mengapa Begitu?

Saya kutip tiga paragraf penggugah mengapa saya bisa menamatkan buku ini dalam 3 jam saja.

Setiap orang bergerak atas informasi yang didapatkannya. Apa yang ada di kepala merepresentasikan segala bentuk dari perbuatannya. Tak terlepas dengan kaum Muslimin, diamnya kita dengan apa yang terjadi saat ini merupakan refleksi dari informasi yang memenuhi kepala.

Umat Muslim cenderung acuh dan tak bergeming. sebab mereka telah lama terjajah dan tumbuh beriringan dengan buah pemikiran para penjajah. Sehingga umat Muslim merasa tak bisa melakukan apa-apa.

Jika kaum Muslimin ingin mengubah keadaannya maka hal yang harus pertama kali diubah adalah informasi yang ada dalam pemikirannya.

Jeratan pemikiran ini harus dilepas sehingga kaum Muslimin dapat berbuat sesuai dengan apa yang diinginkan Rabbnya. Maka cara terbaik untuk membangunkan umat yang tertidur adalah dengan membebaskan apa yang ada dalam kepalanya.

Sungguh tertancap dalam hati saya, sekaligus merasa ditampar sekeras-kerasnya karena hal itu benar adanya.

Baitul maqdis for dummies

Memahami Sejarah Al Alqsha Untuk Membangunkan Kembali Hati Yang Sedang Tidur

Kebanyakan saya membaca sejarah Al Aqsha terpisah-pisah dengan apa yang melatar belakangi masjid ini berdiri, kapan ia pertama kali dibangun, oleh siapa saja ia dipertahankan sekaligus diperebutkan, dan sejarah-sejarah lainnya. Karena terpisah, akhirnya yang diingat hanya Al Aqsha milik umat Islam. Sudah, itu saja.

Padahal sejarahnya, latar belakangnya, bagaimana Israel meninggalkannya lalu kembali untuk memperjuangkan The Promise Land juga penting untuk kita tahu agar tumbuh sense of belonging. Bahwa Al Aqsha bukan hanya milik rakyat Palestina, tapi juga milik kita bersama, semua umat Muslim di dunia.

Baitul Maqdis for Dummies

Dalam buku ini Ustadz Felix Siauw menceritakan dengan runtut, lengkap dengan tahun serta nama-nama yang terlibat dalam kisah di dalamnya ribuan tahun sebelum Masehi, ribuan tahun sebelum Al Aqsha berdiri. Meskipun kompleks, entah mengapa saya membacanya dengan mudah, mungkin karena kalimatnya yang sederhana tapi membekas dalam hati dan pikiran saya.

Menurut saya buku ini penting untuk dibaca, sebagai awal mula langkah kita yang memang ingin bangun dari tidur dan memang sebaiknya begitu, segera bangun. Kalau sudah memahami Al Aqsha, insya Allah sense of belonging itu akan tumbuh kuat, juga mengakar, tentu saja dengan izin Allah, sebagaimana saya sekarang yang ingin “mengikat kembali” apa yang sudah saya baca sehingga perasaan itu akan terus tumbuh dan berbuah.

Kita juga akan memahami bagaimana Nabi Ibrahim hingga Nabi Muhammad diperintahkan untuk tetap menjaga Al Aqsha yang diamanahkan Allah pada kita.

Hanya satu saja yang kurang dari buku ini menurut saya, yaitu beberapa warna halaman biru dengan tulisan hitam yang tipis. Nyaris tak bisa terbaca oleh saya, sehingga harus saya beri senter agar tulisan tersebut lebih terang. Mungkin warna fontnya bisa diganti jika warna halamannya gelap.

Namun tetap saja beberapa halaman saja yang butuh effort untuk membacanya itu tak mengurangi esensi dan keindahan tulisan dalam buku ini. Semuanya tersampaikan dengan baik hingga membuat saya penasaran dan melahapnya dalam sekali duduk. Sungguh, saya sangat menantikan kelanjutannya di Baitul Maqdis For Dummies jilid 2.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *