Cart 0
kammi3

Mencintai KAMMI dengan Kritik: Refleksi Pergerakan dan Pengkaderan

Hari ini, kritik dalam bingkai opini sebagaimana di kolom-kolom media cetak memiliki platform baru; media sosial. Kabar baiknya, di media baru ini tak ada batas maksimal tulisan, potong tulisan, juga penantian panjang sebagaimana mengirim ke media cetak. Kurang baiknya, tak ada kurasi ketat meja redaksi. Tapi malah, kadang-kadang, mengirim opini lepas di media sosial memiliki ketegangan yang tak kalah mendebarkan dibanding dengan media cetak. Sebab keterhubungan pertemanan yang cepat dan jangkauan yang luas memungkinkan sembarang komentar baik remeh hingga serius bisa langsung dilayangkan.

Tuisan-tulisan Eri Muriyan di buku ini sebagian besar seperti gambaran di atas. Tak jarang, hal-hal berbau sensitif-internal organisasi pun dikirim ke akun sosmed pribadinya. Beragam komentar menghampiri. Ia menyebutnya “biar pikiran kita diuji publik, bukan pikiran kelas grup Whatsapp”.

Opini di sosial media atau artikel perihal ide kegiatan tertentu secara orisinil, ditulis dengan runut bisa dinikmati banyak orang, hari ini barangkali tidak tumbuh subur, alih-alih hanya selarik quote dan caption asal comot. Tulisan-tulisan bernada kritik-gagasan-reflektif namun ringan, menjadikan buku ini menarik.

Eri berbicara dari kejadian-kejadian sederhana semisal ulang tahun kader dakwah, literasi di tubuh gerakan, hingga kejadian ganjil aksi panjang gerakan mahasiswa di bulan Mei. Tak luput soal pengkaderan, dari elegi humas hingga arah baru gerakan.

Rp46,000

Weight 200 g

Be the first to review “Mencintai KAMMI dengan Kritik: Refleksi Pergerakan dan Pengkaderan”